foto bajaKebijakan nasional yang berpihak pada  penggunaan bahan baku dan produk baja dalam negeri untuk pembangunan infrastruktur Jembatan Selat Sunda (JSS) yang akan  menjadi ikon Indonesia  diperlukan, guna meningkatkan teknologi kandungan dalam negeri (TKDN), serta pemanfaatan sumber daya nasional. Sebab, dengan TKDN  itu pertumbuhan baja dalam negeri semakin meningkat, dan pasti membawa keuntungan untuk perekonomian nasional.

Rencana pembangunan JSS dipastikan bakal membutuhkan pasokan baja dalam jumlah besar sebagai bahan dasar  konstruksi jembatan. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan pasokan baja itu diperlukan industri baja. Apalagi, kemampuan industry lokal baja sudah mampu untuk memenuhi kebituhan komponen dasar pelat baja, PC strain, PC wire,PC bar, dan baja tulangan untuk konstruksi jembatan Selat Sunda. Walaupun masih diperlukan pendetailan pemenuhan spesifikasi yang khusus melalui benchmarking, seperti komposisi kimia, heat treatment, sifat-sifat fisik dan mekanik, finishing (termasuk metoda untuk pencegahan korosi), pengelasan dan isntalasi.

BPPT telah melakukan koordinasi dengan para stakeholder, industry baja, peneliti dan perekayasa baja, investor, dan lembaga pemerintah  guna  memenuhi kebutuhan bahan baku baja secara nasional.  Data menyebutkan total kebutuhan industry baja di Indonesia mencapai 23 juta ton, sedangkan pasokan baru mencapai 3,8 juta ton, sehingga masih ada kekurangan pasokan bahan baku industry baja sekitar 19 juta ton.

“Sesuai dengan kebutuhan baja nasional, dan roadmap pengembangan bahan baku mineral yang disusun oleh Kementerian Perindustrian,  diperlukan kegiatan riset dan pengembangan terkait penyiapan bahan baku industri hulu termasuk kebutuhan produksi baja,” . Direktur Pusat Teknologi Material, BPPT, Wawas Swathatafrijiah didampingi I Nyoman Jujur, Perekayasa Utama BPPT  di sela-sela acara workshop teknologi material baja mutu tinggi untuk menjawab kebutuhan di sector konstruksi hingga 2020 di Jakarta. (*/ju)