Jakarta, Itech – Kementerian Ristekdikti berkomitmen untuk mendukung pengembangan riset dan pengembangan teknologi nuklir di Indonesia, melalui skema Program Pengembangan Teknologi Industri dan Insentif Sistem Inovasi Nasional (INSINAS). Apalagi saat ini riset dan pengembangan teknologi tenaga nuklir Indonesia telah berkembang dengan baik sehingga mampu menghasilkan produk-produk inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, dunia industri dan dunia kesehatan

“ Total alokasi dana yang disiapkan untuk mendukung riset dan pengembangan sebanyak 81 miliar rupiah, Kemenristekdikti mengundang LPNK dan Perguruan Tinggi untuk memanfaatkan dana ini,” jelas Menristekdikti Mohamad Nasir disela peluncuran lima produk radioisotop dan radiofarmaka Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) serta Penandatanganan Kontrak Kerjasama Pengembangan Teknologi Industri antara Kemenristekdikti dan BATAN di kawasan Puspitek Serpong, Tangsel, Senin (19/6).

Adapun kelima produk radioisotop dan radiofarmaka BATAN yang diluncurkan Menristekdikti yakni Kit Radiofarmaka MIBI, Kit Radiofarmaka MDP,Kit Radiofarmaka DTPA, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Sm-EDTMP, dan Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG. Kelima produk tersebut siap digunakan untuk kebutuhan diagnosis dan penyembuhan beberapa penyakit, terutama penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, dan ginjal.

Selain pendanaan, Menristekdikti juga mendukung tumbuhnya iklim riset dan pengembangan di Indonesia dengan mengeluarkan regulasi- regulasi riset yang lebih baik. ” Kami juga  berharap  untuk tidak mengeluarkan kebijakan atau regulasi yang menyulitkan peneliti, dunia industri dan para pemangku kepentingan lainnya. “Dalam hal pendanaan, jangan sampai laporan pertanggung jawaban lebih susah dibandingkan penelitiannya,” pungkas Menristekdik

Lebih lanjut M. Nasir  menambahkan  bahwa riset jangan hanya sebatas publikasi dan tersimpan di perpustakaan, namun harus dihilirisasikan dan komersialisasikan. Menristekdikti menyambut baik langkah BATAN dalam melakukan hilirisasi hasil riset. “ Produk-produk teknologi nuklir telah memberikan kontribusi yang besar dalam bidang kesehatan, energi, pertanian, industri, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Salah satunya adalah pemanfaatan radiofarmaka di bidang kesehatan. Di negara negara maju, radiofarmaka telah menjadi pilar utama dalam menyelesaikan masalah kesehatan,” tambahnya.

Menurut laporan dari Badan Tenaga Nuklir Internasional, jumlah pasien di seluruh dunia yang ditangani menggunakan radiofarmaka telah melebihi 6 juta pasien per tahun.  Di Indonesia  terdapat  belasan rumah sakit di tanah air yang telah memiliki fasilitas kedokteran nuklir. Jenis penggunaan radiofarmaka tertinggi adalah penggunaan untuk diagnosis penyebaran kanker tulang menggunakan radiofarmaka MDP. Radiofarmaka ini merupakan salah satu produk Kimia Farma hasil pengembangan Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka BATAN.

Deputi Pendayagunaan Teknologi Nuklir BATAN  Hendig Winarno, mengatakan produk BATAN telah masuk dalam e-katalog LKPP sehingga memudahkankan dalam pemesanan. Produk pertama yang diluncurkan adalah Kit MIBI, yang berfungsi untuk mendiagnosis fungsi jantung dan mengevaluasi fungsi otot jantung. Jika teknik pencitraan medis biasa hanya dapat  melihat perubahan anatomi atau massa jantung, maka hasil pencitraan menggunakan MIBI memberikan informasi yang lebih akurat mengenai fungsi jantung

Sementara itu, Honesti Basyir, Presdir Kimia Farma menyambut baik kerjasama yang telah terjalin antara BATAN dan dunia Industri (Kimia Farma). Menurutnya,  saat ini telah ada 11 produk BATAN yang telah dihilirisasikan dan digunakan oleh Kimia Farma. “Pemakaian produk BATAN dari tahun ke tahun mengalami peningkatan,” ujar Basyir. Dengan sinergi, Basyir berharap produk BATAN dapat masuk dalam skala industri. red/ju