Jakarta, Itech- Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) ditetapkan oleh lembaga independen  nuklir yang berpusat di Vienna, Austria, Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency /IAEA) , sebagai pusat kolaborasi atau Collaborating Center (CC) Pemuliaan Mutasi Tanaman. Penetapan tersebut dilakukan saat general conference IAEA di Wina, Austria, pada  (22/9) lalu.

Penunjukaan  Batan  sebagai CC tersebut, dinilai  berperan aktif dalam mengaplikasikan teknologi nuklir untuk tujuan damai, khususnya meningkatkan produktivitas dan kualitas pangan melalui program pemuliaan mutasi tanaman (mutation breeding).

“Dengan ditetapkannya Batan sebagai CC dalam hal Mutation Breeding, maka Batan dijadikan sebagai pusat kerjasama IAEA untuk penelitian dan pengembangan pertanian berbasis iptek nuklir di kawasan Asia-Pasifik dan negara Selatan-Selatan,” kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto di Jakarta, Jumat (6/10).

Menurutnya, proses pengajuan sebagai CC tersebut mulai Februari 2017. “Pesaing kita ada Malaysia, China. Indonesia nyaris dikalahkan Malaysia. Akhirnya Indonesia dipilih sebagai tempat CC tersebut,” ungkapnya.

Disebutkan, Indonesia dipilih karena dinilai memiliki reputasi baik dalam pemanfaatan nuklir bidang pertanian. Varietas unggul dengan teknik pemuliaan tanaman dengan radiasi gamma menambah pendapatan petani karena produktivtasnya makin tinggi.

Selain ditetapkan sebagai CC Pemuliaan Mutasi Tanaman, pada tahun 2014, Batan juga mendapatkan penghargaan Outstanding Achievement Award on Plant Mutation Breeding dari IAEA. “Maka Batan dijadikan sebagai pusat kerja sama IAEA untuk penelitian dan pengembangan pertanian berbasis Iptek Nuklir di kawasan Asia-Pasifik dan negara Selatan,” paparnya.

Ditempat yang sama,  Soeranto Human, peneliti Batan dan sekaligus  sebagai Koordinator CC menambahkan, beberapa capaian Batan dalam mutation breeding antara lain 22 varietas padi, 10 varietas kedelai, 3 varietas sorgum, 2 varietas kacang hijau, 1 varietas kacang tanah, 1 varietas gandum tropis, dan 1 varietas kapas.

Selama ditetapkan CC sudah dua peserta dari Mozambique yang ikut pelatihan mutation breeding di Batan. Namun, sebelumnya sudah lebih dari 50 orang yang ikut pelatihan di Batan, antara lain dari Negara Burkina Faso, Cambodia, Laos, Myanmar, Madagascar, Mozambique, Namibia, Nepal, Sri Lanka, Tanzania, dan lain-lainnya.

Masih menurut Soeranto, melalui berbagai kegiatan IAEA Collaborating Center on Plant Mutation Breeding di Indonesia, dipastikan ke depan Indonesia (Batan) akan lebih berperan penting dalam pengembangan pertanian berbasis Iptek Nuklir untuk kawasan Asis-Pasifik dan Afrika, khususnya negara Selatan.

“Keuntungan yang diperoleh bagi Indonesia yaitu selain mendapatkan dukungan dan bantuan fasilitas riset dari IAEA, untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pertanian lokal, Indonesia tentu akan lebih dikenal oleh dunia internasional sebagai negara yang maju dalam bidang pertanian berbasis Iptek nuklir, demi meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan ikut serta memelihara perdamaian dunia,” ungkapnya. (red/ju)